Dukun Pengganda Uang Bertindak, 5 Warga Tegal Tewas Diracun 16 Tahun Silam

BERITA RAKYAT – Kamis jelang tengah malam, 2 Desember 2004, masyarakat Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah gempar. Salah seseorang warganya di Desa Margasari bernama Suparman( 50 tahun) tewas sehabis tadinya dikenal kejang- kejang. Istrinya, Wasriah, nasibnya lebih beruntung sebab cuma hadapi pingsan sepanjang 4 jam.

Bukan hanya soal tewasnya Suparman yang membuat gempar, melainkan berita yang mengatakan kalau ia serta istrinya saat sebelum peristiwa terlebih dahulu meminum racikan yang diberikan seseorang dukun. Apalagi, sebagian masyarakat yakin jika Suparman serta Wasriah ialah anggota suatu sekte beraliran sesat.

   

Cuma dalam hitungan jam ataupun Jumat dinihari, berita seragam tiba dari daerah lain di Tegal. Pendamping suami istri Rofi`i( 55 tahun) serta Masturo alias Turah( 50 tahun) dari Desa Kupu, Kecamatan Dukuh Turi, Kabupaten Tegal tewas dengan metode yang sama.

Demikian pula dengan Sarnadi( 45 tahun), masyarakat Desa Kabukan yang tidak lain merupakan adik Rofi`i. Korban tewas yang lain merupakan Rochimah, masyarakat Desa Pesarean, Kecamatan Talang. Sebaliknya nyawa Suharjo( 45 tahun), suami Rochimah, sukses selamat sehabis menemukan perawatan di Rumah Sakit Universal Wilayah dokter Soselo, Slawi.

Polisi juga bergerak kilat dengan menghadiri posisi serta melaksanakan otopsi. Dari kediaman para korban, polisi pula menyita 3 gelas yang diprediksi jadi wadah dari air yang diminum korban saat sebelum wafat.

Dari penjelasan pihak keluarga serta masyarakat dekat, di hari yang sama polisi pula menciduk Iskandar( 49 tahun) dari kediamannya di Desa Wadasmalang, Bumijawa. Dari salah satu kediamannya, polisi menciptakan bermacam tipe bahan beracun semacam sianida, toksin tikus, serta toksin ikan.

Tetapi, Iskandar tiba- tiba tekanan pikiran dikala ditangkap serta terpaksa dirawat di Rumah Sakit Universal Islam PKU Muhammadiyah Slawi. Sedangkan polisi menyimpan kepercayaan kalau Iskandar merupakan pelakon yang dengan terencana membubuhkan toksin ke dalam minuman buat 5 korban tewas tersebut.

Dilansir dari Majalah Gatra, Kepala Kepolisian Resor Tegal Ajun Komisaris Besar Polisi Tri Nugrojo J Adi berkata, motif terdakwa menghabisi korban sebab khawatir kedoknya terbongkar. Kepercayaan itu kian kokoh sehabis otopsi terhadap mayat korban menampilkan hasil seragam, di badan mereka ditemui senyawa arsenik, sianida, serta organofosfat.

Kejadian ini berawal dari impian muluk para korban yang mau menemukan duit dengan metode gampang. Impian itu bersambut kala seseorang laki- laki bernama Iskandar timbul di desa mereka. Dari berita yang tersebar, laki- laki itu disebut- sebut memiliki keahlian melipatgandakan duit secara gaib.

Dengan seluruh bumbu serta cerita yang dilebih- lebihkan, para korban juga tertarik. Semenjak 3 bulan sebekum peristiwa, mereka juga sering bertanya serta kesimpulannya jadi semacam pengikut si dukun dengan harapan tumpukan duit mereka dapat meningkat dengan kilat.

Dalam pertemuan yang diselenggarakan, si dukun menarangkan kalau buat mendapatkan duit gaib yang di idamkan, mereka wajib melakukan ritual tertentu sepanjang periode tertentu pula. Mereka juga mesti membayar mahar. Belum jelas berapa nilainya, tetapi diperkirakan tiap- tiap menyetor dekat Rp 10 juta.

Ritual serta kumpul- kumpul itu biasa dicoba di rumah Rofii di Desa Kupu, Dukuhturi. Di situlah, penuturan Suharjo, Iskandar pernah memperlihatkan kesaktiannya dengan mengganti sekarung klobot jadi tumpukan duit. Terdapat dugaan, Iskandar yang memiliki koleksi jenglot itu menghipnotis korbannya.

Kepada para korban, Iskandar berkata, duit itu tidak boleh dijamah dahulu.

” Tunggu hingga berganti sempurna jadi Rp 17 miliyar pada 5 Desember,” ucap Iskandar, semacam dituturkan Suharjo.

Rabu 1 Desember 2004, dicoba ritual akhir berbentuk pembagian air sesaji. Penuturan Wasriah, hari itu, selepas Ashar, Suparman mengajaknya ke rumah Rofii. Tidak hanya tuan rumah serta istrinya, di situ telah muncul Sarnadi, Suharjo serta Rochimah, dan Iskandar bagaikan pemimpin spiritual.

Wasriah bersama Masturoh bertugas memasak air serta menuangkannya ke dalam baskom. Iskandar menghasilkan kembang setaman yang dibawanya, kemudian memasukkannya ke dalam baskom berisi air tadi. Diprediksi polisi, kala itu Iskandar pula sekaligus membubuhkan toksin.

Iskandar membagi air ke dalam kantong plastik kecil, setelah itu menyerahkannya kepada para korban serta memohon mereka merapal suatu mantra yang wajib dibaca saat sebelum meminum air sesaji.

” Dia berpesan supaya air itu diminum besoknya saat sebelum tengah malam,” tutur Wasriah.

Nah, esok malamnya, para korban juga bertumbangan. Respon toksin begitu kilat. Rata- rata korban tewas sebagian puluh menit berselang. Suparman tercantum lumayan kokoh, bertahan sampai jam 02. 00.

Ulah Sang Penarik Becak

Bagi catatan Polres Tegal, saat sebelum permasalahan tewasnya 5 masyarakat Tegal, paling tidak telah 2 penderita sang dukun yang wafat diprediksi akibat perlakuan seragam. 2 lelaki malang itu, Suseno serta Suwitno, ditemui tewas di Sungai Kaligung, November serta Desember 2002.

Saat sebelum ajal, keduanya dikenal kerap berhubungan dengan Iskandar. Bagi keluarganya, Suseno pernah menyetor Rp 25 juta kepada Iskandar dengan iming- iming bakal digandakan secara gaib jadi Rp 31 miliyar. Sebaliknya Suwitno menyetor Rp 11 juta. Lalu mereka dimohon melaksanakan ritual di Sungai Kaligung, antara lain dengan meneguk air sesaji yang diprediksi dibubuhi toksin.

Tidak hanya mengusut kematian Suparman serta kawan- kawan, polisi pula tengah menyelidiki permasalahan kematian suami- istri Suwirjo- Ning Tati. Pendamping berumur separuh abad ini ditemui tewas dalam posisi rebah bersila di Pemakaman Universal Sekuceng, Desa Talok, Tegal, satu hari saat sebelum gempar kematian Suparman serta kawan- kawan.

Lalu, siapa sesungguhnya Iskandar sang dukun palsu? Tidak banyak yang ketahui kalau lelaki itu mantan penarik becak serta kuli cangkul di Dukuhmalang, Tegal. Asal- usulnya pula tidak jelas.

” Dia tinggal di Dukuhmalang semenjak 1986. Tahun 1992, dia menyunting gadis aku, Roenti. Aku tidak sempat memandang orangtua ataupun saudaranya,” tutur Kasripah, bunda mertua Iskandar semacam dilansir dari Gatra.

Pada 1997, lelaki yang diketahui pandai omong ini merantau sepanjang setahun. Kabarnya, dia melarikan diri sebab terpaut permasalahan penipuan benda antik. Tahun 1998, Iskandar kembali ke Dukuhmalang. 2 tahun berselang, dia mulai diketahui bagaikan orang pintar. Tiba- tiba ekonominya membaik.

Lelaki tidak tamat sekolah dasar ini merenovasi rumah mertua, sekalian membangun 2 rumah lain yang lumayan bagus. Diprediksi, Iskandar telah melaksanakan aksi tipu- tipunya bagaikan dukun pengganda duit.

Pada Desember 2002, dia ditangkap menyusul ditemuinya mayat Suwitno mengapung di Sungai Kaligung. Di dekat mayat ditemui bunga setaman serta sisa bakaran kemenyan. Korban dikenal menyetor Rp 11 juta kepada Iskandar buat digandakan. Tidak jelas karena kematiannya. Keluarga korban menolak otopsi.

Iskandar pernah ditahan, tetapi dilepaskan sebab tidak lumayan fakta. Pada 2003, dia hijrah ke Wadasmalang, sehabis masyarakat Dukuhmalang mengusirnya. Di tempat tinggal barunya, Iskandar bebas beraksi. Polisi menebak, terdakwa sudah merperdaya puluhan korban dengan jumlah kerugian ratusan juta rupiah. Sebagian korban dihabisinya sekaligus.

giff

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *