Hati Hati Saat Menolong Orang Kecelakaan, Salah Dikit Bisa Dipenjara

BERITA RAKYAT – Bagaikan pengguna jalur, kita bisa ikut serta, menimbulkan serta jadi korban musibah di jalur raya. Sesekali kala terjalin musibah, sebagian besar dari kita hendak dengan cekatan membantu korbannya.

Naluri ini merupakan naluri alamiah manusia, telah sepantasnya bagaikan sesama manusia kita silih membantu. Nyatanya membantu korban musibah tidak dapat sembarangan. Dikala membantu korban musibah telah diatur dalam undang- undang.

Jangan anggap sepele ya, jika kita lalai begitu saja dapat terserang ancaman kurungan penjara sepanjang 3 bulan serta denda.

Dalam pasal 531 Kitab Undang- undang Hukum Pidana( KUHP) diungkapkan kewajiban membantu orang yang memerlukan pertolongan.

Berikut bunyi pasal tersebut;

“ Barangsiapa melihat sendiri terdapat orang di dalam kondisi bahaya maut, lalai membagikan ataupun mengadakan pertolongan kepadanya lagi pertolongan itu bisa diberikannya ataupun diadakannya dengan tidak mengkhawatirkan, kalau dia sendiri ataupun orang lain hendak kena bahaya, dihukum kurungan selama- lamanya 3 bulan ataupun denda sebanyak- banyaknya Rp 4. 500,- Jika orang yang butuh ditolong itu mati.”

Tetapi pasal ini diberikan catatan menimpa penggunaannya ialah apabila seorang hendak membagikan pertolongan kepada orang yang hadapi musibah.

Alangkah baiknya dia menyadari kalau aksi tersebut tidak membahayakan dirinya serta yang ditolong.

Misal dia tidak bisa membantu dengan tenaganya sendiri, dia bisa memohon dorongan pada orang lain yang dikira dapat menolong semacam menelepon petugas kedokteran ataupun kepolisian.

Lain bila seorang secara siuman bisa serta sanggup, baik raga ataupun ketrampilan, membantu orang lain yang lagi dalam bahaya serta tidak membahayakan diri sendiri ataupun orang lain kemudian tidak mencari pertolongan ataupun berikan pertolongan, hingga orang tersebut bisa dikenakan pasal ini.

Nah secara simpel bila mengalami seorang dalam kondisi bahaya ataupun jadi korban musibah bisa lekas ditolong.

Triknya lekas mendatangi no darurat 119 buat menemukan arahan petugas serta memberi tahu kepada petugas ataupun apabila mempunyai ketrampilan pertolongan awal pada musibah bisa mengevakuasi korban.

Ini berlaku buat korban musibah cedera parah, apabila korban musibah cuma hadapi musibah ringan serta baret sedikit hingga bisa dibantu sesegera bisa jadi.

Musibah Sebab Jalur Berlubang Dapat Memohon Ubah Rugi Lho, Ini Pasalnya

Infrastruktur jalur di Indonesia dapat dikatakan belum begitu baik, tidak terkecuali di kota kota besar tercantum DKI Jakarta.

Banyaknya lubang serta gelombang pada jalur, ataupun juga sisa proyek galian tanah yang tidak dirapihkan lagi secara rampung pasti dapat jadi faktor munculnya musibah kemudian lintas.

Buat itu penyelenggara jalur harus buat membetulkan keadaan jalur buat menjauhi musibah.

Tidak banyak yang ketahui sesungguhnya musibah akibat jalur rusak, warga dapat melaksanakan penuntutan ubah rugi.

Perihal ini juga telah tertuang dalam undang- undang, sebagaimana Pasal 24 ayat 1 Undang- Undang No 22 Tahun 2009 tentang Kemudian Lintas serta Angkutan Jalur disebutkan, penyelenggara jalur harus lekas serta pantas buat membetulkan jalur rusak yang bisa menyebabkan musibah kemudian lintas.

Ayat 2 pada pasal sama disebutkan, dalam perihal belum bisa dicoba revisi jalur rusak sebagaimana diartikan, penyelenggara harus berikan ciri ataupun rambu pada jalur yang rusak buat menghindari terbentuknya musibah kemudian lintas.

Dalam perihal ini pengendara kendaraan bermotor yang celaka akibat jalur rusak tersebut dapat menuntut ubah rugi sebagaimana yang terdapat di Pasal 273 UU LLAJ.

Pada Pasal 273 ayat 1 berbunyi, tiap penyelenggara jalur yang tidak dengan lekas serta pantas membetulkan jalur rusak yang menyebabkan musibah kemudian lintas sehingga memunculkan korban cedera ringan serta ataupun kehancuran kendaraan serta ataupun benda dipidana dengan penjara sangat lama 6 bulan ataupun denda sangat banyak Rp12 juta.

Setelah itu Pasal 273 ayat 2 disebutkan, dalam perihal sebagaimana yang diartikan pada ayat 1 menyebabkan cedera berat, pelakon dipidana dengan pidana penjara sangat lama satu tahun ataupun denda sangat banyak Rp24 juta.

Pada ayat 3 disebutkan bila perihal itu menyebabkan orang lain wafat dunia pelakon dipidana dengan pidana penjara sangat lama 5 tahun ataupun sangat banyak Rp120 juta.

Pada ayat 4 berbunyi, penyelenggara jalur yang tidak berikan ciri ataupun rambu pada jalur yang rusak serta belum diperbaiki bisa dipidana dengan pidana penjara sangat lama 6 bulan ataupun denda sangat banyak Rp1, 5 juta.

Direktur Preservasi Jalur Direktorat Jenderal Bina Marga, Hedy Rahadian, membetulkan soal warga dapat menuntut ubah rugi dari musibah akibat jalur rusak.

Tetapi dalam tuntutannya, warga wajib penuhi persyaratannya.

Misalkan terdapat fakta laporan dari pihak kepolisian tentang musibah tersebut, setelah itu terdapat fakta raga berbentuk gambar rusaknya kendaraan yang dipakai buat musibah.

“ Iya dapat dituntut jika musibah sebab jalur rusak. Oleh sebab itu, tiap jalur rusak senantiasa diberi ciri kalau jalur ini rusak,” ucap Hedy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *