Netanyahu Kecam Koalisi Oposisi untuk Lengserkan Dirinya

BERITA RAKYAT – Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut koalisi pemerintahan baru dari oposisi yang berpotensi melengserkannya merupakan hasil ‘kecurangan pemilu terbesar’ dalam sejarah demokrasi Israel.

Seperti dilansir Reuters, Senin (7/6/2021), tuduhan itu disampaikan Netanyahu pada Minggu (6/6) waktu setempat saat kepala dinas keamanan domestik Israel terang-terangan memperingatkan soal prospek kekerasan politik.

Netanyahu fokus janji kampanye yang tidak ditepati oleh Naftali Bennett politikus oposisi yang akan menjabat PM baru Israel, menggantikan dirinya.

Bennett sebelumnya berjanji untuk tidak berkoalisi dengan partai-partai sayap kiri, sentris dan Arab, namun pekan lalu, dia mengumumkan koalisi dengan pemimpin oposisi Yair Lapid yang membentuk koalisi pemerintahan yang terdiri berbagai faksi partai dari berbagai spektrum politik.

Di bawah kesepakatan koalisi itu, Bennett mendapat giliran pertama untuk menjabat sebagai PM Israel, yang selanjutnya akan digantikan oleh Lapid.

Belum ada tanggal yang ditetapkan untuk voting parlemen guna menyetujui koalisi pemerintahan yang dibentuk Lapid. Pembentukan koalisi itu dilakukan Lapid sebagai pemimpin oposisi, setelah Netanyahu yang partainya mendominasi parlemen Israel, gagal menjalankan tugas serupa hingga batas waktu berakhir.

“Kita menyaksikan kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah negara ini, menurut pendapat saya dalam sejarah demokrasi mana pun,” sebut Netanyahu dalam pernyataan kepada jajaran Partia Likud yang menaunginya.

“Itulah mengapa orang-orang merasa ditipu dan mereka merespons, mereka tidak seharusnya diam,” imbuhnya, yang secara tidak langsung merujuk pada janji kampanye Bennett.

Netanyahu menjadi pemimpin Israel terlama yang menjabat sejak tahun 2009. Kepemimpinannya diselimuti persidangan kasus korupsi, yang telah dia bantah berulang kali.

Terbentuknya pemerintahan baru akan menutup krisis politik yang melanda Israel sejak pemilu tidak memberikan hasil yang menentukan — pemilu terakhir pada Maret lalu merupakan pemilu keempat dalam dua tahun terakhir di Israel.

Orang-orang yang marah pada koalisi baru yang dibentuk oposisi, menggelar unjuk rasa di luar rumah-rumah para politikus oposisi.

Sementara itu, dalam peringatan publik yang tergolong langka pada Sabtu (5/6) lalu, kepala badan keamanan internal Israel, Shin Bet, menyatakan bahwa wacana online yang semakin ekstrem bisa memicu tindak kekerasan.

Turut mengecam tindak kekerasan dan aksi penghasutan, Netanyahu menyebut koalisi Lapid-Bennett sebagai aliansi sayap kiri yang berbahaya. Perkiraan secara meluas menyebut koalisi pemerintahan baru itu akan dilantik pada 14 Juni mendatang.

“Pemerintahan ini membahayakan Israel dengan bahaya yang belum pernah kita lihat selama bertahun-tahun,” sebutnya.

“Kami, teman-teman saya dan saya di Likud, akan secara tegas menentang pembentukan pemerintahan berbahaya yang penuh penipuan dan sama saja menyerahkan diri ini. Dan jika, semoga Tuhan tidak mengizinkan, (pemerintahan) itu terbentuk, kami akan melengserkannya dengan sangat cepat,” tegas Netanyahu.

Netanyahu menegaskan bahwa koalisi pemerintahan baru yang terlalu beragam tidak akan bisa berdiri teguh jika Amerika Serikat (AS) kembali bergabung kesepakatan nuklir Iran atau mencapai kesepakatan dengan Hamas di Gaza.

AGENADUQ | AGENBANDARQ | AGENCAPSUN | AGENDOMINO99 | AGENPOKERONLINE | AGENSAKONGONLINE | AGENBANDARPOKER | AGENBANDAR66

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *