Pria Singapura yang Jadi Mata-mata China Dihukum 14 Bulan Penjara di AS

BERITA RAKYAT –  Jun Wei Yeo ataupun pula diucap Dickson Yeo seseorang akademisi asal Singapore dijatuhi hukuman 14 bulan penjara oleh majelis hukum Amerika Serikat( AS). Yeo merekrut pejabat AS buat membagikan data rahasia politik serta pertahanan ke Cina.

Semacam dikutip kantor kabar AFP, Jumat( 9/ 10/ 2020), Jun Wei Yeo bekerja dengan intelijen Cina semenjak 2015, mendirikan konsultan politik di Washington yang ia pakai buat mengenali orang AS dengan izin keamanan tingkatan besar yang ia usahakan buat membayar data rahasia.

Laki- laki berumur 39 tahun itu ditangkap di lapangan terbang pada November 2019 serta mengaku bersalah pada Juli atas satu dakwaan beroperasi secara ilegal bagaikan agen asing, yang bisa menimbulkan hukuman sampai 10 tahun penjara.

Tetapi ia diberi hukuman yang relatif ringan serta dikreditkan sepanjang 11 bulan sudah menghabiskan waktu di penjara bersumber pada kerjasamanya dengan otoritas AS. Tidak hanya itu pula sebab ancaman tertular COVID- 19 di penjara, kata Hakim Federal Washington Tanya Chutkan. Hukuman itu berarti ia dapat dibebaskan serta dikeluarkan dari AS pada Januari.

Dalam persidangan hukuman yang dicoba lewat telekonferensi, Yeo nampak putus asa dikala ia melaporkan penyesalan, serta berkata ia tidak bernazar buat menyakiti siapa juga. Ia berkata sudah diperlakukan dengan baik oleh otoritas kehakiman AS.

” Yang mau aku jalani cumalah kembali ke keluarga aku,” katanya.

Namun setelah itu ia meningkatkan kalau ia senantiasa menunjang Beijing.” Aku masih bersimpati pada perjuangan Cina,” katanya di majelis hukum.

” Secara politis, aku memanglah memiliki simpati. Aku akui itu dengan leluasa,” katanya.

Chutkan membuat perbandingan dengan negeri lain, berkata pada Yeo:” Aku hendak menghukum Kamu atas apa yang Kamu jalani, bukan apa yang Kamu pikirkan.”

” Tuan Yeo bekerja di dasar arahan dinas intelijen Republik Rakyat Cina,” katanya.

” Kejahatan yang dicoba Tn. Yeo tidaklah kesalahan evaluasi sesaat.”

” Aku bisa berkata kalau Kamu merupakan laki- laki yang berpendidikan besar serta aku percaya Kamu paham kalau Kamu ketahui apa yang Kamu jalani,” katanya kepada Yeo.

” Pembedahan Kamu dirancang buat melemahkan Amerika Serikat demi kepentingan Cina.”

Pada dikala yang sama, Chutkan berkata kalau ia wajib menerima statment jaksa kalau Yeo bekerja sama baik dengan penyidik dalam permasalahan tersebut.

Tidak hanya itu, ia mencatat Yeo sudah bertahan 11 bulan di penjara AS, di mana terdapat wabah virus Corona yang luas, tanpa terinfeksi.

” Yeo beruntung. Sepanjang ini ia belum terkena COVID,” ucapnya.

Yeo ialah seseorang mahasiswa PhD di National University of Singapura, ditunjukan oleh intelijen Cina buat membuka konsultasi palsu di AS serta menawarkan pekerjaan, bagi dakwaan.

Ia menerima lebih dari 400 resume, 90 persen di antara lain berasal dari militer AS ataupun personel pemerintah dengan izin keamanan. Ia memakai ini serta guna jaringan LinkedIn buat melacak mungkin sasaran, dengan fokus pada orang- orang dengan izin keamanan paling atas.

giff

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *