Selamat Dari Longsor yang Tewaskan 11 Orang, Tiga Penambang di Muaraenim Ini Pasrah Jadi Tersangka

BERITA RAKYAT –  3 orang pekerja tambang selamat dari maut tambang batubara di posisi penambangan tanpa izin( PETI) di Muaraenim Sumatera Selatan. Tetapi begitu pintu penjara talah menanti mereka. Ketiganya diresmikan jadi terdakwa pada musibah kerja tersebut.

Penetapan terdakwa ini sehabis melaksanakan penyelidikan yang kesimpulannya Polres Muara Enim tetapkan 3 terdakwa pekerja tambang ilegal yang selamat dari maut. Ketiga terdakwa diancam pidana sangat lama 5 tahun serta denda sangat banyak Rp 100 miliyar di Mapolres Muara Enim, Kamis( 22/ 10/ 2020).

Ada pula ketiga terdakwa tersebut ialah Dadang Supriatna( 56) masyarakat Desa Pengalengan, Kecamatan Pangelangan, Kabupaten Bandung Selatan.

Bambang( 38) masyarakat Desa Sumber Agung, Kecamatan Kepoh Baru, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur serta Mahmud( 26) masyarakat Desa Batu Menyan, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan.

Tim di Puskesmas Tanjung Agung sedang mengevakuasi korban tewas tertimbun tambang batubara ilegal di Desa Tanjung Lalang kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muaraenim, Sumsel, Rabu (21/10/2020).

Bagi Kapolres Muara Enim AKBP Donni Eka Syaputra didampingi Kasat Reskrim AKP Dwi Satya, berkata kalau peristiwa tersebut bermula pada hari Rabu bertepatan pada 21 Oktober 2020 dekat jam 12. 30, 3 orang terdakwa bersama 11 orang yang lain( yang jadi korban wafat dunia) melaksanakan aktivitas penambangan tanpa IUP ataupun IUPR ataupun IUPK di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, yang lagi bekerja menggali dilokasi tambang batubara.

Pada dikala menggali serta membuat jalur dilokasi penambangan batubara tanpa izin( PETI) tersebut, 13 pekerja terletak di dalam galian buat mengangkat lumpur serta menggali dilokasi penambangan serta satu orang pekerja diluar galian.

Pada dikala 13 pekerja lagi menggali serta sebagian estafet mengangkat lumpur yang dimasukan ke dalam karung sekira jam 13. 00 seketika tanah di tebing sebelah kanan jalur dekat setinggi 9 m tersebut longsor serta mengenai 11 orang pekerja yang lagi terletak di posisi serta menyebabkan 11 orang tersebut tertimbun serta 2 orang bekerja sepanjang tidak terserang timbunan.

Setelah itu 2 orang pekerja yang terletak di dalam galian yang selamat berteriak memohon tolong sehabis itu dicoba evakuasi terhadap 11 orang pekerja yang tertimbun serta dibawa ke Puskesmas Tanjung Agung.

Akibat dari penambangan tanpa izin tersebut menyebabkan 11 orang wafat sebab tertimpa oleh tanah yang terletak di atas bekerja pada dikala melaksanakan aktivitas penambangan.

Tambang batubara ilegal di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, longsor.

Sehabis dicoba olah TKP oleh anggota Polsek Tanjung Agung serta Satreskrim Polres Muara Enim Krimsus Polda Sumsel dikenal terdapat 3 orang pekerja yang selamat yang melaksanakan penambangan tanpa izin tersebut dimintai penjelasan.

Sehabis itu mengumpulkan benda fakta kunci cocok Shanghai sati buah, Blencong 2 buah, Cangkul 4 buah, Ember 3 buah, celana jins panjang corak Coklat Putih 2 buah, Pakaian kaos lengan pendek corak Kuning, satu buah training panjang Gelap, Satu buah topi 6 buah sepatu bot, Satu pasang sepatu kets, 3 buah serpihan batubara 3 bungkah, 15 karung batubara, motor Honda Revo corak Gelap 2 unit.

” Ketiga terdakwa tidak hanya menambang serta ngojek batubara,” ucap Kapolres Muara Enim ini.

Atas perbuatan tersebut, sambung AKBP Donni, ketiga terdakwa melanggar pasal 158 Undang- Undang RI No 3 tahun 2020 Tentang Pergantian Atas Undang- Undang RI No 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan serta Batubara Jo pasal 55 KUHP dengan diancam dengan pidana penjara sangat lama 5 tahun serta denda sangat banyak Rp 100 miliyar.

Sedangkan itu, pengakuan 3 terdakwa Dadang Supriatna, Bambang serta Mahmud, kalau mereka jadi pekerja tambang batubara tersebut baru dekat 2 minggu, sehabis diajak sahabatnya. Serta mereka sama sekali tidak ketahui bila menambang tersebut merupakan ilegal.

” Kami kesini cuma mencari duit, tidak ketahui sah apa tidak,” jelasnya.

Masih dikatakan mereka, kalau mereka selamat pada dikala peristiwa, posisi mereka duduk mepet di dekat bilik jalur terowongan serta letaknya agak diluar sehingga tanah tidak langsung mengenai mereka, sebaliknya sahabatnya terletak di dalam lorong terowongan sedalam dekat 9 m.

” Pada dikala terowongan ambruk kami cuma pasrah memejamkan mata. Kejadiannya pendek tahu- tahu telah ambruk,” tegas Bambang yang telah 6 bulan jadi pekerja batubara ilegal ini.( Ardani Zuhri)

giff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *